Goa Putri Pukes, Objek Wisata Bernilai Pesan Moral




MANUSIA sebagai makhluk individu sejak lahir ke dunia ini telah memiliki nilai keindahan di dalam dirinya (animal estetikum). Dengan adanya nilai keindahan tersebut sehingga manusia selalu berkeinginan memandang dan merasakan keindahan yang dapat memberikan ketenagan dan kesenangan dalam hidupnya. Salah satu keindahan yang dapat pandang dan dirasakan oleh manusia adalah keindahan alam. Manusia juga memiliki sifat kejenuhan apabila yang dipandangnya hanya alam disekitarnya, sehingga manusia membutuhkan suatu perjalanan ke tempat lain untuk memandang dan merasakan lingkungan dan alam yang berbeda.
Di Indonesia tempat pariwisata sangat banyak, baik wisata alam, wisata budaya, wisata relegius, wisata bersejarah, wisata cerita rakyat atau mitos, wisata peninggalan purbakala dan tempat liannya yang dapat dijadikan sebagai tempat pariwisata. Dataran Tinggi Tanah Gayo Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah yang terdapat wilayah nusantara. Daerah tersebut terletak di tengah-tengah provinsi Aceh, memiliki iklim dingin dan tanah yang subur karena curah hujan yang tinggi. Selain itu juga daerah tersebut memiliki beberapa tempat wisata alam yang sangat indah, wisata budaya dan wisata bersejarah.  Salah satunya Danau Laut Tawar selain alamnya indah dan sejuk, di sekeliling juga memiliki tempat-tempat bersejarah dan legenda.
Setiap daerah di nusantara memiliki legenda atau cerita rakyat yang memiliki bukti pisik berupa patung batu dan bukti fisik yang lainnya yang dapat dijadikan tempat wisata. Begitu juga halnya dengan wilayah Aceh Tengah ada beberapa tempat yang dijadikan sebagai wisata yang asalnya dari cerita rakyat dan memiliki sifat fisik secara nyata, namun tidak memiliki bukti tertulis dan sumber yang jelas. Tempat tersebut seperti legenda Loyang (Gua-red) Putri Pukes, Loyang Koro (gua Kerbau), Loyang Mandale, Atu Belah (Batu Terbelah), Loyang Datu dan beberapa tempat lainnya.
Sejarah Asal Usul Putri Pukes
Putri Pukes merupakan nama seorang gadis kesayangan dan anak satu-satunya yang berasal dari sebuah keluarga di sebuah kerajaan kecil.  Suatu hari putri tersebut menyukai seorang pangeran dari kerajaan lain. Awalnya, kedua orangtuanya tidak merestui karena negeri tempat tinggal pangeran itu jauh. Namun, karena kegigihan Putri Pukes dan Pangeran, orangtua putri pun merestui dan menikahkan mereka. Pernikahan pun dilaksanakan, berdasarkan adat setempat. Mempelai wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria.
Setelah resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya kedua mempelai diantar menuju tempat tinggal pria. Pihak mempelai wanita diantar yang dalam bahasa Gayo disebut ‘munenes’ ke rumah pihak pria ke  Samar Kilang. Pada acara ‘munenes’ pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah tangga seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat ‘munenes’ biasanya dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem ‘juelen’, dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ke tempat orang tuanya. Berbeda dengan sistem ‘kuso kini’ (kesana kemari) atau ‘angkap’. Kuso kini, pihak wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakatan dengan suami. Sementara sistem ‘angkap’, adalah kebalikan dari ‘juelen’, pada sistem perkawinan ini, pihak lelaki diwajibkan tinggal bersama keluarga pihak wanita, disebabkan pihak wanita yang mengadakan lamaran terlebih dahulu. (Marina Asril Reza, 2010: 10).
Pernikahan ini juga disebabkan beberapa hal antara lain, mempelai pria sebelumnya meminta atau mengemis kepada wali mempelai wanita untuk dinikahkan dengan putrinya, dengan alasan sangat mencintainya. Sehingga sebagai persyaratannya, pihak pria harus tinggal bersama keluarga mempelai wanita. Disinilah detik-detik terjadinya peristiwa sehingga nama Putri Pukes terkenal hingga sekarang, saat akan melepas Putri Pukes dengan iringan-iringan pengantin, ibu Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang sudah menjadi istri sah mempelai pria. “Nak… sebelum kamu melewati daerah Pukes yaitu daerah rawa-rawa sekarang menjadi Danau Laut Tawar. Kamu jangan penah melihat ke belakang,” kata ibu Putri Pukes. . (Marina Asril Reza, 2010: 10)
Dijelaskan oleh Danurfan (2013 ) Sang putri berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang keluar terus menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, membuat putri lupa dengan pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Secara tak sengaja putri menoleh ke belakang, Tiba-tiba, datanglah petir menyambar dan hujan yang sangat lebat. Putri Pukes dan rombongannya segera berteduh di dalam sebuah goa.

 
Menurut Suherman Amin (2009) Putri Pukes di dalam goa, berdiri di sudut untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Perlahan-lahan,  tubuh Putri Pukes mengeras. Menurut cerita masyarakat setempat Putri Pukes sangat terkejut dan menangis. Ternyata, tubuhnya berubah menjadi batu. Putri Pukes menyesal, karena tidak mengindahkan pesan orangtunya. Seharusnya, ia tidak menoleh ke belakang selama dalam perjalanan. Setelah mereasa cukup lama beristirahat dan hujan mulai reda, mereka berniat melanjutkan perjalanan. Para pengawal memanggil Putri Pukes, Berkali-lkali pengawalnya memanggil, tetapi tetap tidak terdengar jawaban. Para pengawal pun menghampiri tempat Putri Pukes berdiri. Mereka terus memanggil, tetapi Putri Pukes hanya diam. Saat dilihat dengan jelas, para pengawal sangat terkejut melihat tubuh Putri Pukes telah mengeras dan menjadi batu. Sampai sekarang, batu Putri Pukes masih bisa dilihat. Bentuknya membesar di bagian bawah, tetap bentuk sanggul dan kepala Putri masih bisa dikenali.
Di dalam gua, selain melihat batu seorang putri, masih ada benda lain yang dapat dilihat. Beberapa benda tersebut diantaranya sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, tempat duduk untuk bertapa orang masa dahulu, alat pemotong zaman dahulu.  Air sumur tersebut kata penjaga gua tersebut dapat dijadikan sebagai obat berbagai macam penyakit, sumur ini tiga bulan sekali ada air (Danurfan, 2013).
Menurut masyarakat Gayo di Aceh Tengah, benar ada atau tidaknya cerita ini tidak menjadi masalah yang sangat penting. Cerita Putri Pukes telah menjadi cerita turun terumurun sampai sekarang. Yang paling terpenting di sini adalah nilai etika berupa pesan moral yang disampaikan dalam cerita tersebut. Cerita putri pukes, menyadarkan manusia dalam kehidupannya. Menjalankan perintah orang tua merupakan salah satu kewajiban manusia sebagai insan. Nilai  itulah yang disampaikan dalam cerita tersebut sejak dahulu sampai sekarang.
Selain itu cerita Putri Pukes bukan hanya memberikan nasehat tentang menjalankan perintah orang tua. Akan tetapi ada nilai lain yang ingin disampaikan berupa nilai adat istiadat di daerah tersebut. Berdasarkan asal usul putri pukes di atas, legenda ini bercerita tentang adat perkawinan. Kemudian sistem perkawinannya Juelen (pihak istri tinggal di rumah suami). Kemudian mahar yang dibayar oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan sangat mahal.
Menurut masyarakat setempat menjeleskan bahwa pada zaman dahulu pernikahan Putri Pukes lantaran jauh dengan tempat tinggalnya dan pihak laki-laki juga meminta sistem perkawinannya juelen. Sehingga keluarga dari Putri Pukes meminta mahar sebanyak 20 kerbau ditambah kebun dan perhiasan lainnya. Dengan syarat apabila Putri Pukes telah dibawa ke tempat laki-laki, apabila tidak diijinkan oleh suaminya untuk pulang maka putri pukes tidak boleh pulang. Perjanjian itu akhirnya manjadi kutukkan karena tidak diijinkan oleh yang maha kuasa.
Itulah pelajaran yang dapat diambil dari cerita Putri Pukes, bahwa suatu perkawinan bukanlah memutuskan silaturrahmi. Namun mempereart silaturrahmi antara kedua keluarga. Kemudian anak gadis bukanlah barang yang diperjualbelikan dan maharnya sangat mahal. Dengan adanya kisah tersebut menyadarkan masyarakat setempat. Sehingga mahar perkawinan pada saat sekarang hanya sewajarnya berdasarkan peraturan agama Islam.
Letak Geografis Goa Putri Pukes
Gua Putri Pukes merupakan salah satu tempat pariwitasa yang terletak di daerah Aceh Tengah. Tempatnya berada di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan. Goa ini berada di pinggiran Danau Laut Tawar, jaraknya dari pusat kota sekitar 10-15 menit perjalalanan atau 6 KM dari pusat Kota (Danurfan, 2013).
Tempat tersebut pada zaman kerajaan terletak di kampung Nosar. Menurut Mukhlis dalam Kasim  (1980: 46)  Kampung Nosar merupakan pusat kerajaan Syiah Utama. Kerajaan tersebut merupakan salah satu kerajaan kecil dari beberapa kerajaan lainnya. Kerajaan Syiah Utama masih memiliki pusat kerajaan besarnya yang terletak di Buntul Linge yang bernama Kerajaan Linge.
Kampung Nosar pada awal terbentuknya kabupaten Aceh Tengah masuk ke wilayah Kecamatan Bintang. Nosar merupakan kampung yang wilayahnya sangat luas, ketika dipecahkan menjadi beberapa desa kecil sehingga Goa Putri Pukes masuk ke wilayah kampung Mendale. Kemudian setelah adanya pemekaran kecamatan, daerah Gua Putri Pukes masuk ke wilayah kecamatan Kebayakan.
Gua Putri Pukes terletak di pinggir jalan raya, sehingga wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut mudah untuk mendapatkannya. Selain itu juga jalan menuju tempat tersebut mudah dilalui oleh transportasi apapun, baik roda dua maupun roda empat serta bus pariwisata.
Gua Putri Pukes sebagai Objek Wisata
Objek wisata adalah perwujudan dari ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi (Chafid Fandeli, 1995: 58). Ada bebrapa jenis objek wisata yang menarik dikunjungi, dianataranya objek wisata alam, objek wisata budaya, objek wisata tempat bersejarah, objek wisata pendidikan dan objek wisata yang lainnya.
Gua Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata yang terdapat di Aceh tengah, secara fisiknya objek tersebut termasuk ke dalam objek wisata alam. Karena goa dan keadaan alam sekitarnya digolongkan kepada objek wisata alam. Kemudian kalau dikaji lagi secara mendalam tentang asal usul gua Putri Pukes sebagaimana telah dijelaskan pada pain sebelumnya, bahwa objek wisata tersebut memiliki nilai budaya dan nilau moral serta memiliki sejarah secara cerita rakyat.
Wisata alam merupakan objek wisata yang berhubungan dengan keindahan alam yang telah ada kemudian dikelola dengan baik sehingga menjadi tempat pariwisata. Gua Putri Pukes adalah salah satu goa yang ditata oleh masyarakat setempat, sehingga tempat tersebut menjadi objek wisata. Selain bentuk goanya yang indah isi di dalam gua juga menjadi daya tarik wisatawan mengunjunginya.
Gua Putri Pukes menurut cerita rakyat setempat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa goa dan patung yang ada di dalamnya sangat berarti dalam budaya Gayo. Karena kisah tersebut secara tidak langsung telah menguraikan adat perkawinan di daerah Gayo. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Gua Putri Pukes mendapat pengetahuan tentang nilai budaya di tempat tersebut. Hal tersebut merupakan salah satu tujuan wisatawan untuk mengunjungi objek wisata budaya.
Secara historis memang Gua Putri Pukes tidak memiliki bukti yang kaut (secara tertulis), sampai saat sekarang ini kisah tentang putri pukes menjadi batu hanya berdasarkan cerita rakyat secara turun-temurun. Kemudian di sekitar goa baik di dalam maupun diluar tidak tulisan-tulisan yang menandakan kisah tersebut benar-benar terjadi. Namun bukti tersebut belum memenuhi kriteria sebuah sejarah. Sehingga kisah Putri Pukes digolongkan kepada legenda atau cerita rakyat. Bagi masayarakat setempat yang terpenting adalah hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut bukan benar adanya atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA
Fandeli, Chafid dan Wagito. 1995, Dasar-Dasar Manajemen Kepariwisataan Alam, Liberty: Yogyakarta.
Reza, Marina Asril. 2010, 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara, Visimedia: Jakarta.
Saleh, Kasim. M 1980, Seni Rupa Aceh I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerha Istimewa Aceh: Banda Aceh.
Spillane, James J. 1994, Ekonomi Pariwisata Sejarah dan Prospeknya, Kanisius Anggota IKAPI: Yogyakarta.
______________. 1994, Pariwisata Indonesia Siasat Ekonomi dan Rekayasa Budaya, Kanisius Anggota IKAPI: Yogyakarta.
Suwantoro, Gamal. 1997, Dasar-Dasar Pariwisata, Andi: Yogyakarta
Yoety, A Oka. 1994, Komerisasi Seni Budaya dalam Pariwisata, Angkasa: Bandung.
Sumber Lain
Amin, Suherman. 2009, Putri Pukes Manusia Jadi Batu Akibat Menyepak Ibunya Ketika Salat,  Acehnationalpost.com.htm (diakses 15 Mei 2013)
Danurfan: 2013, Kisah Tragis Putri Aceh Dikutuk Jadi Batu di Gua Pukes,Detik Travel.com (diakses 1 Juni 2013)
Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh tengah. 2013, Aceh Tengah. (diakses 3 Juni 2013)
Google.Earth.com (diakses 5 Juni 2013)
*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Padangpanjang Sumatera Barat. Asal Bener Meriah.

sumber LintasGayo.co

No comments: